Labels

Wednesday, April 11, 2012

Kanker Serviks


A.    Konsep Kanker Serviks
1.      Anatomi Serviks
Serviks atau yang biasa disebut sebagai leher rahim merupakan salah satu bagian dari uterus. Serviks ini terdiri atas pars vaginalis servitis uteri yang dinamakan porsio dan pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada di atas vagina. Saluran yang terdapat dalam serviks di sebut kanalis servikalis, berbentuk seperti saluran lonjong dengan panjang 2,5cm. saluran ini dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks. Pintu sebelah dalam di sebut ostium uteri internum dan pintu di vagina di sebut ostium uteri eksternum (Sarwono Prawirohardjo, 2008).

2.      Pengertian Kanker Serviks
Kanker leher rahim atau carcinoma serviks adalah penyakit akibat tumor pada daerah mulut Rahim akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya. Hal ini merupakan keganasan dari serviks yang ditandai denga adanya perdarahan lewat jalan lahir atau vagina, tetapi gejala tidak muncul sampai tingkat lanjut, dimana tanda dan diagnose pasti dapat ditegakkan dengan menggunakan pap smear (Andi Koibiti, 2011).

3.      Etiologi Kanker Serviks
Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui. Tetapi ada beberapa faktor preclis posisi posisi yang dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks yaitu gadis yang kaitus pertama pada usia amat muda (kurang dari 16 tahun), multiparitas, jarak persalinan terlampau dekat,social ekonomi randah,hygiene seksual yang jelek,aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan,infeksi virus HPV tipe 16 atau 18 dan kebiasaan merokok. (sarwono purwirohardjo, 2008).

4.      Stadium Kanker Serviks
Secara makroskropi kanker serviks dibagi menjadi beberapa stadium, yaitu :
a.       Stadium preklinik
Tidak dapat dibedakan dengan cervitis chronica biasa

b.      Sadium permulaan (early stage)
Sering tampak sebagai lesi disekitar asbum externum, pada batas kedua jenis epitel. Daerah tersebut terlihat sebagai daerah yang granuler, keras, lebih tinggi dari sekitarnya dan mudah berdarah. Kadang-kadang permukaannya ditutup oleh pertumbuhan yang papiler.
c.       Stadium setengah lanjut (moderately advanced stage)
Pada stadium ini, infeksi telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir parsio. Bentuknya seperti blaemcool. Bentuk ini disebut everting atau exophitic. Bila tubuhnya ke dalam jaringan cerviks disebut inverting atau endophytic. Teraba sebagai indurasi yang keras.
d.      Stadium lanjut (advanced stage)
Pada stadium ini terjadi pengrusakan pada jaringan seviks, sehingga tampaknya seperti ulkus denga jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. Vagina di sekitarnya jadi keras, juga ligamentum latum sebagai akibat infiltrasi jaringan Cad an juga karena infeksi. (bagian Obstetri dan Ginekologi fakultas kedokteran Unversiat Padjajaran Bandung, 1981).

5.      Tanda dan Gejala Kanker Serviks
a.       Gejala kanker leher/mulut Rahim pada stadium dini, yaitu kadang-kadang terjadi perdatahan , perdarahan setelah berhubungan intim, munculnya keputihan yang makin lama, makin erbau busuk.
b.      Gejala kangker leher/mulut Rahim pada stadium lanjut, yaitu hilangnya nafsu makan, menurunnya berat badan, nyeri perut bawah, panggul dan punggung, pendarahan spontan, pendarahan dari saluran kencing dan anus, keluar feses menyertai urin melalui vagina, anemia, pembengkakan pada kaki, gagal ginjal.(Andi Kaibito, 2011).

6.      Klasifikasi Klinis Kanker Serviks
Ada beberapa macam klarifikasi,tetapi yang paling banyak penganutnya ialah yang dibuat oleh IFGO, yaitu sebagai berikut:
~Stage 0          : Carcinama in situ
~Stage I          : Ca terbatas pada serviks
~Stage Ia        : Disertai invasi elari stroma (preclinical Ca) yang hanya             diketahui secara histologi
~Stage Ib        : Semua kasus-kasus lainnya dari stage I
~Stage II         : Sudah menjalar ke luar cerviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3 bagian proximal
~Stage III       : Sudah sampai dinding Panggul dan 1/3 bagian bawah vagina
~Stage IV       : Sudah mengenai bagian-bagian organ-organ lain.(Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, 1981).

7.      Diagnosis Kanker Serviks
Tumor yang sudah lanjut mudah dikenal. Lain halnya dengan tumor stadium dini, lebih-lebih tumor yang belum memasuki jaringan bawah epitel. Oleh karena itu, wanita yang telah menikan dianjurkan melakukan pemeriksaan pap smear. Adapun teknik mengambil cairan pervaginaan adalah:
~Spekulum dipasang tanpa melakulan pembilasan vulva
~Ambillah lidi kapas, untuk mengambil cairan pada canalis serviks (parsio)                                   uteri, daerah furniks posterior,daerah furniks lateralis
~Oleskan pada objek glas
~Masukkan kedalam kantung plastic
~Bilas dengan lakohol 95% sampai 96% sekitar 5 menit
~Keringkan di udara terbuka
~Paparan pop smear telah siap dikirim ke dokter ahli patologi anatomi
~Tulis data-data lengkap tentang penderita (I.B.G. Manuaba, 1998)
Apabila hasil pemeriksaan pop smear mencurigakan maka pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi. (Sarwono Prawirohardjo, 1998).

B.     Konsep Anemia
1.      Definisi
Anemia secara praktis didefisinikan sebagai kadar Hb, konsentrasi Hb atau hitung eritrosit di bawah batas normal (Sarwono Prawirohardjo, 2008).

2.      Tanda dan gejala
Sebagian besar pasien yang mengalami anemia akan memiliki beberapa keluhan, yaitu lemah, pucat, mudah pingsan (Sarwono Prawirohardjo, 2008).

3.      Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis anemia dapat dilakukan pemeriksaan dan pengawasan Hb sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
-          Tidak anemia atau normal          : 11 gr%
-          Anemia ringan                           : 9-10 gr%
-          Anemia sedang                          : 7-8 gr%
-          Anemia berat                             : kurang dari 7 gr% (I. B. G. Manuaba, 1998).
 
4.      Bentuk-bentuk Anemia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan darah. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.       Komponen yang berasal dari makanan, terdiri dari, protein, glukosa, lemak, vit B12, B6, asam folat, vit c dan elemen dasar (Fe, Ion Cu dan zink).
b.      Sumber pembentukan tulang, yaitu sumsum tulang.
c.       Kemampuan reabsorsi usus halus terhadap bahan yang diperlukan.
d.      Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari.
e.       Terjadi perdarahan kronik (menahun) seperti gangguan menstruasi, penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita. Parasite dalam usus halus.
Berdasarakan faktor-faktor tersebut di atas, anemia dapat digolongkan menjadi:
a.    Anemia defisiensi besi (kekurangan zat besi)
b.    Anemia megaloblastik (kekurangan vitamin B12)
c.    Anemia hemolitik (pemecahan sel-sel darah lebih cepat dari pembentukan)
d.   Anemia hipoplastik (gangguan pembentukan sel-sel darah) (I. B. G. Manuaba, 1998)
e.    Anemia defisiensi asam folat (kekurangan asam folat)
f.     Anemia penyakit sel sabit (eritrosit berbentuk sabit) (Sarwono Prawirohardj0, 2008).